Selasa, 29 Agustus 2017

Mencoba Via Veratta Gunung Parang

Hallo bajs dan sobat ayo ngetrip udah lama ya blog ini tidak menyapa pemirsa dimana pun berada. Kali ini the bajs mau ceritain pengalaman saat ngetrip mendaki gunung dengan cara yang berdeba,yaps the bajs kali ini akan mencoba via veratta cara lain dalam mendaki gunung,oya via veratta itu berasal dari Bahasa italia yang berarti “ Tangga besi “ dan iyaps kita kali ini mau mendaki gunung dengan bantuan tangga besi,dengan menggunakan body harness ya mirip semacam wlak climbing gitu deh. Oya personil kali the bajs kali ini ada Satria,mas edo ( yg kebetulan lagi ada interview kerjaan di Tangerang), dan teman2 ayo ngetrip koh anes,om yudi,dan om bayu,dan ane mordenit. Sebenarnya ada juga anggota cewenya namun mereka urung berangkat karena kesibukan masing2.
Hari sabtu 1 Oktober 2016 sore pukul 6 kami semua berangkat menuju purwakarta tepatnya ke gunung parang yang berada di desa cihuni, kali ini rombongan terbagi dua dengan meet point di stasiun Jakarta kota ane dan edo berangkat dari Tangerang dan satria beserta lainnya berangkat dari Bekasi, ane dan edo berangkat sekitar jam 2 siang dari stasiun Tangerang, dan tiba di stasiun Jakarta kota pukul 4 sore, dikarenakan ane dan edo yang duluan dating ya sudah kita pergi ke loket kereta untuk membeli tiket kereta menuju purwakarta, sembari menunggu rombongan Bekasi tiba. Namun naas ketika ane dan edo sampe di stasiun kota tiket yang menuju purwakarta sudah habis dan loket pun sudah tutup. Namun kami di kabari dengan sesame penumpang yang mengantri bahwa loket akan buka kembali pukul 5 sore untuk pembelian tiket purwakarta selanjutnya, ya sudah terpaksa ane dan edo mengantri sambal menunggu loket di buka kembali, karena jika di tinggal takut tak kebagian tiket lagi waktu itu antriannya sudah membludak… hahahaha
Selang 30 menit lagi loket di buka koh anes alias cukong tiba di stasiun kota dan menemui kami yang sedang mengemper ngantri tiket, lalu di susul satria, om yudi, dan bayu selang beberapa menit kemudian. Tepat pukul 5 sore loket di buka ane dan edo pun bergegas berdiri dan perlahan maju menghampiri petugas loket, namun kejutan yang kami dapatkan ternyata tiket local jurusan stasiun purwakarta telah habis dan hanya tersisa tiket KA menuju Cikampek, (FYI stasiun Cikampek masih dua stasiun lagi sebelum stasiun Purwakarta), dikarenakan sudah mengantri cukup lama dan jika tak jadi berangkat kami merasa malu ya sudah tanpa piker panjang kami pun membeli tiket menuju Cikampek,sesuai dengan prinsip ane setiap perjalanan mempunyai ceritanya masing2 untuk itu perjalanan yang berubah menjadi ke cikampek terlebih dahulu kita nikmati saja, walaupun kami semua juga tidak tahu dari cikampek nanti akan menggunakan apa menuju desa Cihuni hahahaha, ya nikmati saja bos urusan nanti di piker nanti lah. Setelah tiket di tangan kami pun pergi ke area dalam stasiun dan duduk istirahat di dalam sambal menunggu jam keberangkatan kereta yang sesuai jadwal berangkat pukul 6 sore.
Waktu menunggu itu kami habiskan untuk bercerita dan berfoto2, tepat pukul 6 kurang 15 menit kami masuk ke dalam peron kereta dan menuju gerbong kami sesuai dengan yang tertera di tiket kami berada di gerbong 2, dan mencari no kursi kami sesuai dengan yang ada di tiket, namun karena ini kereta local nomor kursi dan gerbong yang ada di tiket hanyalah pajangan (hahaha), karena sesampainya di dalam kami boleh duduk bebas tidak sesuai nomor, kayak kereta ekonomi jaman dulu pikir ane. Namun karena di dalam gerbong sudah penuh kami jadi duduk terpisah – pisah. Teeettttt terdengar suara klakson kereta dan pluit pertanda kereta akan berjalan, perlahan pun kereta meninggalkan stasiun Jakarta kota, sambil mengisi waktu selama di kereta kami pun mengobrol Cuma satria dan edo saja yang tidak ikut ngbrol dengan ane dan lainnya karena posisi duduknya yang jauh. Nasib sial masih menimpa kami di perjalanan malam itu entah mengapa ac di gerbong kami tak terasa dingin, dua ac malah mengalami kebocoran sehingga meneteskan air sehingga dimatikan oleh CS kereta. Jadilah perjalanan malam itu seperti sedang sauna dimana panas dan keringat menjadi satu…. Hahahaha.
Cikampek 20.40 WIB
Kereta kami tiba di stasiun cikampek, ternyata udara di stasiun sangat dingin dengan angin yang menerpa, lega rasanya karena selama 2 jam bersauna. Setelah turun dari kereta kami pun singgah dulu di toilet stasiun, setelah semua kembali dari toilet kami pun keluar stasiun. Tak lupa ane tanya ke pak satpam untuk menuju purwakarta naik angkutan umum yang mana, pak satpam pun menyuruh kami untuk berjlan kearah flyover dan menunggu angkot yang akan menuju purwakarta,,…
Karena perut kami sudah lapar kami pun mencari warung untuk santap malam,tidak jauh dari pintu keluar stasiun ada warung tenda nasi goreng gitu ya sudah kami mampirlah ke sana karena jalan kea rah flyover lumayan jauh. Kami pun memesan nasi goreng special 6 dan kami pun menyantapnya. Setelah selesai kami pun melanjutkan berjalan menuju bawah flyover, jarak dari stasiun ke flyover  kira2 800 m, sesampainya di bawah flyover kami bertanya ke tukang ojek angkutan menuju purwakrta tepatnya daerah plered ( desa sebelum Cihuni,dari referensi yang di dapat di inet kita harus ke Plered dulu dan melanjutkan perjalanan menuju Cihuni) naik yang mana ya pak,”wah kalau jam segini udah gada angkotnya kalua mau cari di cikopo aja atau kota purwakarta” sesuai dengan apa yang di katakan bapaknya kami pun mencari angkutan ke arah cikopo, tak lama ada AA ankot yang menawarkan jasanya, kami pun bergegas naik di dalam angkot si AA nanya mau kemana emang de,saya jawab aja ke Plered “A” karena waktu itu posisi saya duduk di depan. Dan si AA baik hati ini menawarkan ingin mengantarkan sampai di Plered, langsung saja ane bilang berapa emang “A” kalau sampe Plered 200rb aja A gimana ane pun langsung bilang ke om yudi “gimana om mau ga” dan om Yudi pun memberikan isyarat 170 aja nit dengan menggunakan tangannya. Ane mencoba tawar menawar namun si “AA” sopir angkot tidak mau menurunkan harga ya sudah kamu pun sepakat dengan harga 200rb dikarenakan hari sudah malam dan 200rb untuk di bagi 6 orang msih murah pikir kami. Dan beruntunglah kami dapat sopir angkot yang baik hati ini dan polos…. Hahaha.
Dan ternyata eh ternyata si sopir angkot ini pun tidak tahu arah menuju Plered alhasil kami pun sempat muter2  di dalam kota purwakarta dan bertanya dengan orang sekitar. Namun pada akhirnya kami pun sampai juga di Plered. Kami berhenti di sebuah pangkalan ojek karena memang untuk menuju ke ihuni pintu masuk gunung parang harus menggunakan ojek sebenarnya bisa sih pakai kendaran roda empat atau angkutan umum di karenakan angkutan yang kami tumpangi ini adalah angkutan cikampek sang sopir takut untuk mengantarkan kami. Di sela2 kami menurunkan barang ane pun menuruh om Yudi untuk nego harga dengan para tukang ojek tukang ojek itu menawarkan harga yag terlalu mahal sekitar 50rb per orang,lalu kami pun bertanya kalua angkot bisa ga sampai ke dalam pak,dan tukang ojek itu pun membolehkan kami naik angkot sampai ke dalam, sekedar informasi dari tempat ojek itu ke dalam sekitar 10 km lagi, dan kami tiba di sana sudah pukul 11 malam. Mendengar hal itu pun kami menghampiri si “AA” angkot lagi dan bernego kembali ane bilang aja ke “AA”nya “A” bisa tuh masuk sampai ke dalam kita tambahn 100 deh “A’ gimana…? Si AA pun berpikir dan tak lama kemudian langsung meng”iya”kan untuk mengantar kami dan akhirnya kami pun tak harus berjalan kaki sejauh 10 km atau menunggu  pagi untuk dapat kembali melanjutkan perjalanan. Medan yang kami lalui sangat berat dengan jalan yang sempt dan banyak yang rusak ( lebay dikit lah ya) apalagi dengan menaiki angkot tua yang di tanjakan saja selalu ngeden… hahaha
Jalanan yang kami lalui memasuki area hutan hutan,dan jalanan berliku sempat kami berhenti karena terlihat jalan di depan tidak dapat di lewati dan terlihat si sopir mulai lelah, dan kami pun semua turun untuk mengecek apakah jalan di depan masih bisa di lewati atau tidak ternyata masih bisa di lewati kami pun memotivasi (memasmansi agar si”AA” kembali mengantarkan kami) yakali jalan bos masih jauh juga ke dalam, dan dengan semangat yang kami berikan si “AA” pun kembali mengantarkan kami sungguh baik hati sekali dia… hahaha.
Perjalanan pun dilanjutkan sampai kami memasuki perkampungan penduduk dan kami berhenti di sebuah rumah warga yang dimana ada beberapa anak muda (pemuda desa) sedang nongkrong disitu, kami pun keluar dan bertanya “punten A kalua ke gunung parang masih jauh teu” kata para pemuda itu “deket lagi lah A 3 km lagi ini tinggal naik terus,habis itu turun udah sampai” namun raut gelisah dan kecapain menghinggapi si “AA” sopir sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan perjalanan dan juga kami pun khawatir dengan kondisi mobilnya takut ga bisa nanjak soalnya tanjakannya lumayan… hahaha
Setelah berdiskusi dengan sang sopir kami pun sepakat untuk berhenti menggunakan jasa sopirnya sampai di sini,kami pun menurunkan barang2 dan salah seorang pemuda tadi menghampiri kami dan menawarkan kami untuk istirahat sejenak. Lalu kami sempat mengobrol dengan beberapa pemuda itu, dan pemuda  harapan bangsa ini menawarkan untuk mengantarkan kami menuju ke gunung parang, lalu kami pun menanyakan berapa ongkos nya “A” para pemuda tadi pun bilang seikhlasnya aja “A”. dan kami pun menerima tawaran tersebut, kami pun di antarkan dengan mobil pick up milik warga sekitar sampai di pintu masuk gunung parang.
Perjalanan gelap dan jalanan menanjak lalu menurun kami lalui dan akhirnya taraaaa kami pun tiba di pintu gerbang gunung parang.
Gunung parang 00.30 WIB
Setelah menurunkan barang dari mobil dan memberikan ongkos pick up kami pun, di ajak bertemu dengan abah (ane lupa namanya nanti kalua anggota bajs lain ingat tolong di komentarin ya.. hehehe),kami pun di ajak masuk ke dalam sebuah komplek yang bentukan nya sudah di percantik seperti layaknya desa wisata lengkap dengan saung2 sebagai tempat menginap dan pendopo maupun lapangan luas untuk mendirikan tenda. Dikarenakan kami semua sudah lemas tak berdaya karena ngantuk kami pun langsung mendirikan tenda setelah mengobrol2 dengan si abah di sebuah warung makan. Tenda pun di keluarkan dari cariel satria dan beberapa menit kemudian tenda terpasang dan setelah tenda terpasang kami malah tak bisa langsung tidur,kami malah asik mengobrol terlebih dahulu sambil di temani kopi… hahaha
Waktu dan keadaan tubuh jualah yang memaksa kami perlahan terlelap sbeelumnya ane menyuruh mas edo untuk memasang alaram di karenakan kami esok akan main veratta pagi hari sebelum sunrise,dengan harapan dapat melihat matahari terbit saat melakukan perjalanan mendaki,namun harapan itu tinggalah harapan di karenakan kami semua tidak ada yang bangun (padahal mas edo udah menyirami kami dengan tetesan air).
MInggu 2 Oktober 2016 Base camp gunung parang 07.00 WIB
Satu persatu dari kami pun bangun, tidak lupa ritual pagi kami lakukan (menyabangi toilet tau kan mau ngapain), setelah beres melakukan segala ritual pagi hari kami menuju meet point sebelum pendakian yaitu warung yang tadi malam kami singgahi, di sana kami bertemu dengan guide kami (lupa lagi namanya siapa) dan beberapa rombongan dari Jakarta di sana kami memakai bodyharness yang akan di gunakan untuk melakukan via veratta. Setelah semua peserta dan juga grup kami selesai memakai harness kami pun melakukan pendakian menuju titik awal via veratta,perjalanan menuju titik awal tidaklah sulit karena sudah ada anak tangga menuju sana, namun cukup terjal (samalah kira2 kayak waktu ke sikunir dieng). Namun yang bikin peralanan ini cukup berkesan adalah banyaknya nyamuk karena kami juga melewati kebon2, setelah melangkah sekitar setengah jam kami pun sampai di titik awal pendakian dari titik pendakian ini kami mulai di brefing dengan “A” guidenya bagaimana cara melakukan via veratta dengan aman dan nyaman dan tak lupa berdoa tentunya.
Dari atas sini kita dapat melihat pemandangan waduk cirata dan jatiluhur yang sangat keren guys, perlahan kami pun mulai menaiki tangga besi sambil mengkaitkan harness di kawat baja (sling) di butuhkan tenaga dan pikiran yang focus karena memindahkan sling sambil menaiki anak tangga di ketinggian tidaklah mudah apalagi jika melihat ke bawah dengan pemandangan yang bisa bikin gemetar. Awalanya sih kami semua masih enjoy karena jalurnya masih aman hanya naik lurus saja,namun lama kelamaan jalurnya berubah menjadi ekstrim mulai berbelok dan menyempit. O iya tak lupa juga kami mengambil foto selama perjalanan sayang kan kalua ga di dokumentasikan. Perjalanan menaiki anak tangga kami tempuh kira2 3 jam karena kami banyak berhenti untuk berfoto… hahhahaha (waktu tempuh berbanding lurus dengan seberapa banyak foto yang di ambil).
Perjalanan menuruni gunung tak kalah ekstrimnya guys,malah menurut ane perjalanan turun menjadi hal yang sangat mendebarkan dan menyiutkan nyali (lebay yak). Tapi sumpah dah turunnya serem banget, kita harus turun kayak turuni tanggga bamboo gitu kaki ane sampe gemetar,dan turunnya pun lebih membutuhkan perjuangan dek…… dengan sabar kami menuruni satu persatu anak tanggga sambil membuka dan mengaitkan kembali harness ke sling. Akhirnya titik akhir pun terlihat rasanya lega banget dan akhirnya sampai juga kami di bawah. Dan saatnya menuju warung untuk menikmati segels es teh yang dapat mengademkan dan mengusir dahaga. Yuk cusk e warung guys sesampainya di warung kami semua sudah kayak sapi yang di gelonggong. Buset berapa gelas es the pun tersikat dan juga beberapa botol air mineral (rasanya kayak lw lagi dipadang pasir terus nemu air). Tak lupa kami pun beristirahat sebentar di warung sambil menunggu rombongan barengan kami tiba di warung, selang beberapa lama rombongan tersebut tiba.
Warung base camp 12.00 WIB
Udara siang yang panas saat iitu membuat perut gemetar cacing2 di perut mulai bergejolak, untung saja warung tersebut pun menjual makanan  berat kami pu memesan 6 porsi ayam goreng,tahu,temped an lalapan segar khas sunda. Beberapa menit kemudian tersajilah pesanan kami satu bakul nasi hangat dengan 6 porsi yang terdiri dari ayam,tahu dan tempe goreng serta lalapan (langsung sikat bray), mantaplah ini bray makan siangnya celetuk ane apalagi di tambah dengan sambel yang dapat menggugah rasa.
Tenda 14.00 WIB
Setelah makan rasanya tak bisa lagi berdiri,perut terasa berat euy (pengennya sih balik ke jakartanya besok senin aja) namun bagaimana pun jga kita harus balik karena esok senin dan harus mulai bekerja kembali… wkwkwkw. Dengan niat dan tenaga tersisa kami pun kembali ke tenda dan mulai beberes dan Mandi untuk bersiap pulang,satu persatu barang di kemasi dan Mandi. Setalah selesai mandi dan berkemas kami pun bersiap pulang, karena sudah mulai sore dan tidak lagi memungkinkan untuk naik kereta pulang ke Jakarta kami pun memutuskan untuk naik bus menuju Bekasi, ane pun bilang ke mang Dadang (pemilik pickup yg biasa mengantar jemput wisatwan dari dan menuju gunung parang dan juga merupakan pengelola) dengan ongkos 200rb kami pun di antar ke ciganea (tempat untuk menunggu bus) perjalana pulang kami keren bray pickupnya mang dadang ada karpet dan tenda nya berasa kayak lagi pawai gitu dah,kurang ada Kasur ma bantal aja nih (hehehe). Perjalanan menuju Ciganea kami ditemani hujan yang jatuh dengan derasnya. Mang Ddang ini orangnya baik dan juga ramah,waktu kami melewati sebuah minimarket yang biasa orang sebut alfamart di situ kan ada tukang gorengan mang Dadang pun berhenti sejenak untuk membeli gorengan (kami pikir gorengan itu hanya untuk dia ternyata kami juga di belikan toh). Perjalanan dari gunung parang sampai Ciganea di empuh kurang lebih selama 1,5 jam.
Ciganea 16.00 WIB
Ssesampainya di Ciganea kami menunggu bus yang akan membawa kami ke Bekasi kami ga turun dari pickup karena hujan deras,selang beberapa menit bus yang kami nantikan muncul juga,bergegaslah kami menaiki bus ekonomi AC alam itu,ya tau sendirilah bagaimana keadaan bus ekonomi di negeri ini,perjalanan Purwakarta – Bekasi di tempuh kurang lebih 2 jam, dengan ongkos yang sangat murah 10rb per orang, selama di bus kami tidak banyak mengobrol karena udah capek kami pun banyak tertidur (tau2 nyampe Bekasi).
Terminal bus Bekasi 16.30 WIB
Bus pun tiba di terminal Bekasi namun ini bukanlah tujuan akhir kami,karena sampai Bekasi bertepatan dengan jam makan malam dan perut mulai keroncongan mulailah kami mencari makan,namun bukan makan di sekitar terminal kami malah makan di stasiun Bekasi karena memang saya dan edo harus naik krl ke Tangerang begitupun koh anes yang harus ke stasiun kranji dan satria om yudi yang menyimpan motor di stasiun beksi, dan om bayu yang harus naik ojek (sebenarnya sih gada masalah mau naik dari mana juga). Dengan menggunakan angkot merah nomor 15 kami pun berangkat ke stasiun, sesampainya di stasiun kami pun makan nasi uduk di depan stasiun yang rasanya lumayanlah kami pun memesan lauk sesuai selera, setelah makan kami pun berpisah ane,edo,anes menuju dalam stasiuun sedangkan satria dan om yudi menuju penitipan motor dan om bayu memesan gojek.
Itulah perjalanan singkat kami ber 6 para pria keceable yang berjibaku menikmati keindahan alam gunung parang. Nantikan episode perjalan the bajs lainnya hanya di channel blog saujanasemesta.blogspot.com (kalau udah punya alat canggih pengen juga sih bikin vlog gitu)… hehehe.
Tetaplah menikmati keindahan alam dengan tak lupa menjaganya karena alam bukan hanya milik kita namun juga milik generasi mendatang cheerssssss.

Rincian biaya perjalanan
Tiket kereta St Jakarta kota – cikampek : 5 rb/orang
Sewa angkot Cikampek – Cihuni              : 300 rb
Sewa pickup cihuni sampai gerbang      : 100 rb ( tadinya di kasih 50 rb tapi katanya kurang)
Via veratta                                                : 170 rb/orang (biaya admin 20 rb,via veratta 150 rb)
Makan siang + snack dll                           : 180 rb (Total)
Ongkos pickup Cihuni – Ciganea            : 200 rb
Bus Purwakarta – Bekasi                         : 10 rb/orang

Mordenit Banyuurip PM 

Jumat, 11 Agustus 2017

Menuju Puncak Suroloyo


Tanggal 14 Januari 2014 kami para anggota inti the baj & the keple kompeni pergi untuk survei tempat perkemahan di bukit suroloyo kabupaten Kulon Progo. Kami janjian berangkat pukul 9 pagi,ya tapi dikarenakan kami ini orang – orang selow jadi molor deh berangkatnya jadi jam 10 pagi. Yang semula akan berangkat dari rumah ane jadi dipindah karena si edo bado minta di jemput,alhasil kita semua menuju rumah edo bado,dan ane pun berangkat dan ternyata di rumah edo bado sudah ada mba peppy dan satria yang sudah sampe duluan di sana.
Kita tak berlama – lama di rumah edo setelah menyantap beberapa buah rambutan yang ada di meja kita pun langsung berangkat menuju puncak suroloyo. Tapi di karenakan mba pep dan satria belum sarapan kita singgah dulu di warung lotek mbah – mbah di tukangan dekat rumah edo. Langsung saja mba pep dan satria memesan nasi pecel dan lotek,dan saya edo memesan teh anget manis mereka berdua memesan es teh. Ya kira – kira satu jamman lah kita di warung lotek itu.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 pagi kami langsung menuju ke puncak suroloyo, dan rute yang kami lalui yaitu tukangan,lalu belok kiri melewati raminten,dan lurus menuju godean lalu melewati kalibawang, dan menyusuri jalan arah sendang sono. Memasuki wilayah godean mata kami di manjakan oleh pemandangan yang indah kiri kanan terhampar persawahan yang hijau dan di tambah jalanan yang sepi semakin membuat perjalanan semakin asik. Sekitar satu jam perjalanan di wilayah godean ane dan edo melihat plang bertuliskan makam keluarga besar Universitas Atma Jaya dan kami pun terkejut, ternyata ada ya makam keluarga besar kampus kami.
Selain melihat sawah kami pun melewati kali progo yang pemandangannya tak kala bagus dengan deretan persawahan tadi. Memasuki kalibawang motor ane si puspa motor kece ane mengalami kendala dan ternyata setelah di cek puspa mengalami ketuban bocor ( ga lah maksudnya ban kempes ) langsung saja ane dan edo mencari tempat pemompaan ban ya sekitar berjalan beberapa meter kita menemukan si abang – abang pompanya. Langsung saja si puspa di beri suntikan angin untuk menambah gairah hidup. Perjalanan pun di lanjutkan kembali, tapi sekitar beberapa kilometer ane merasa janggal dengan si puspa kenapa ban belakangnya jadi semakin goyang,dan ternyata si satria gayo memberitahu bahwa ban si puspa kempes lagi. Ah ternyata si puspa tidak mengalami ketuban bocor tapi ketubannya sudah pecah ( bocor alus ). Untuk mengurangi resiko dan biar si puspa tidak ngambek ane jalan pelan – pelan sambil mencari bengkel yang buka. Melewati belokan sendang sono di kanan jalan ada bengkel yang buka langsung saja ane berhenti dan menyakan keluhan ke abang – abang bengkelnya.
Ya sebenarnya kondisi pecahnya ketuban puspa udah sering ane alamin,entah ini kejadian yang keberapa kalinya. Langsung aja ane berpikir dari pada di tambal – tambal lagi ntar bocor lagi mending aja sekalian ganti ban dalamnya. Setelah menanyakan harga ban ke abang -  abangnya langsung si puspa mulai di telanjangi ( maksudnya ban belakangnya mulai di bongkar ). Ya perlu menunggu beberapa menit lah sampai kelar pemasangan bannya. Dan ternyata didepan bengkel itu ada pondok durian,hemmmm pantes aja dari tadi ni idung nyium aroma duren,ah tapi sayang duriannya masih banyak yang belum masak dan masih setia mereka nangkring di pohon. Ya ga bisadeh ngicip – ngicip durian pas lagi nunggu si puspa ganti ban. Tak berapa lama motor ane selesai di perbaiki,lalu kami pun melanjutkan perjalanan, selang 1km an mba pep dan satria berhenti di warung bensin eceran untuk ngasih si parjo minum,ya mungkin si parjo haus o iya parjo tuh nama motor nya mba pep ( alay ya kita pake ngasih – ngasih nama motor segala....hahahaha ).
Dan ane pun juga ikutan memberikan puspa minum, sambil berbincang – bincang dengan ibu – ibu yang punya warung, kita berbincang menanyakan kapan musim durian di sini dan kalo kata ibunya sih baru bulan depan soalnya minggu – minggu ini hujan terus jadi duriannya males mau jatuh dari pohon takut dingin. Setelah membayar bensin lalu perjalanan kami lanjutkan kembali, kali ini medan yang dilalui untuk sampai ke puncak suroloyo cukup menantang dengan tanjakan tajam dan belokan – belokan curam.
Parjo dan puspa pun harus berjibaku melewati tantangan ini, ya sekitar 45 menit an dari tempat isi bensin tadi kita akhirnya tiba di puncak suroloyo. Langsung saja kita menuju parkiran motor untuk memakir motor tentunya. Kami parkir tak jauh dari tangga menuju puncak suroloyo, setelah memarkir motor perjalanan kami lanjutkan menuju puncak suroloyo dengan berjalan kaki, dan ternyata di depan kami sudah menanti ratusan anak tangga dengan tinggi dan sudut yang ekstrim untuk kami taklukan. Sebelum menaiki anak tangga satria bilang ayo kita itung jumlah anak tangganya ada berapa,kalau menurut yang dia baca itu ada sekitar, aduh berapa ya ane juga lupa ma yang di bilang satria....hehehehe. Dan kami masing – masing pun menghitung anak tangga dari bawah sampai ke puncak. Kalau hasil itungan ane sih 245 anak tangga,tapi satria ngitung hasilnya beda ma ane ya udahlah ya ga penting juga.
Sampai di puncak ternyata di sana ada kayak semacam pendopo gitu untuk melihat pemandangan dari atas puncak. Ya pemandangan yang oke banget dari atas puncak kita bisa melihat gunung merapi, merbabu, sumbing dan sindoro menjulang gagah. Dan candi borobudur pun bisa terlihat dari atas puncak suroloyo.  Setelah puas menikmati keindahan puncak suroloyo dan memandangi kota Magelang kami pun beranjak pulang,kembali kami menuruni anak tangga.
Tapi ternyata cuaca sedikit mendung lalu kami memutuskan untuk singgah sebentar di warung yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Lalu kami memesan makanan dan minuman masing – masing saya memesan indomie rebus telur dan es teh, lalu edo memesan es teh dan kacang atom, mba pep mesan es teh dan makanan apa saya lupa, satria juga mesan es teh dan snack – snack gitulah. Kami semua menikmati pesanan kami sambil mengobrol – ngorol santai, ya mulai dari bergosip, membahas hal yang sedang trend sampai ke urusan percintaan hahahaha.
Ya kira – kira kami menghabiskan waktu sekitar 1,5jam di warung tersebut, dan ternyata cuaca kembali cerah dan langsung saja kami semua bergegas ke parkiran motor untuk menuju tujuan selanjutnya yaitu curug sidoharjo. Di parkiran kami bertanya kepada pemuda setempat dimana lokasi curug itu berada, lalu kami di kasih tau sama masnya katanya ikuti aja jalan pulang nanti ketemu pertigaan yang ke tiga langsung belok kanan. Oke kami pun langsung berlalu dan tak lupa bayar parkir dulu. Di perjalanan ane dan edo mengobrol tentang indahnya pemandangan yang ada di sekitar sini,dan sesekali di selingi tentang obrolan lain. Menit pun berlalu kami semua masih berjalan menuruni jalanan yang berkelok ini dan setelah melewati beberapa pertigaan sampailah kami di pertigaan yang ke tiga yang di maksud pemuda setempat tersebut. Setelah lama menyusuri jalan lalu kami memutuskan untuk kembali bertanya kepada penduduk setempat, ya karena kami ragu – ragu kok dari tadi ga nyampe – nyampe lalu bertanya kepada seorang bocah. Dan tersebut pun memberitahu “ o dari sini lurus aja mas,nah nanti ada masjid belok kanan ikuti aja jalan setapak yang ada di sebelah masjid nah air terjunnya di situ” oke kami pun langsung bergegas berjalan menyusuri jalan,dan tak lama berselang kami menemui masjid dan ternyata ada plang penunjuk ke arah curug.
Langsung saja kami belok kanan ke arah masjid,dan di situ kami sempat kebingungan karena ga ada jalannya dan kami pun metuskan untuk bertanya pada seorang bapak tua yang kebetulan berada di masjid itu. Lalu kata si bapak tua itu,” o masnya ngikuti jalan ini aja nanti ada parkiran parkir di situ saja” oke pak imbuh kami. Dan kami pun berjalan menyusuri jalanan setapak,kami seperti memasuki wilayah hutan karena kanan kiri kami banyak pohon – pohon berasa kayak lagi bertualang di dalam hutan gitu, Cuma kurang motor trail nya aja.
Dan tak lama berselang kami pun sampai disebuah rumah yang juga di jadikan sebagai tempat parkir,lalu kami pun di sambut oleh bapak tua sang pemilik rumah dan parkiran tersebut. Langsung saja kami menaruh motor kami untuk di parkir di situ,dan tidak lupa menanyakan jalan ke curug ke bapak tadi,kata si bapak “ ini ke arah timur nanti ada jalan turun ke bawah nah ikuti jalan itu aja nanati sampai ke curug deh” kata si bapak itu.
Oke tanpa berpikir panjang kami langsung mengikuti kata – kata si bapak tadi,kami menuju ke barat dan menuruni jalan yang ada di bawah. Waow perjalanan yang sangat menakjubkan kami seperti sedang menjelajah hutan, ini kayak di film – film gitu, setelah sekian lama berjalan tampak dari kejauhan sosok curug yang kami cari terlihat dan di sertai suara air yang mengalir cukup deras. Dan ternyata kami sudah dekat dengan curug sidoharjo setelah melewati jembatan kayu kami pun sampai. Mata kami takjub dengan keindahan curug sidoharjo waow curug nya tinggi mungkin tingginya kira – kira 30 meteran.
Kami pun seperti terbius dengan panorama curug sidoharjo ini,kayak di hidden paradise gitu sayangnya kami belum punya bendera jadi ga bisa deh ngikutin hidden paradise. Langsung saja kami menuju lebih dekat ke arah curug, yang pada hari itu berwarna coklat karena memang baru saja di guyur hujan. Air yang menyentuh tubuh ini seakan membuat segar,lalu ane, edo, satria, berpikir sayang nih udah sampai sini kalau ga nyemplung berasa kaga afdol. Langsung saja edo bilang udah sikat aja kita cawetan aja gapapa gada yang lihat ini.
Langsung saja kami bertiga dengan spontan membuka baju dan celana kami,dan hanya tinggal cawet yang membungkus diri ini ( hahahaha,lebai yak omongannya ). Dan kami bertiga pun langsung nyebur ke curug untuk menikmati segar dan dinginnya air curug sidoharjo. Waow dan ternyata benar men dingin banget airnya tapi segar, dan melihat kami terlihat senang bermain di curug, mba pep pun memtuskan untuk nyemplung juga ( byurrrr). Kami pun menghabiskan beberapa jam untuk bermain dan berenang di curug. Dan waktu pun menunjukkan pukul 3 lewat karena kami nanti malam ada pertemuan dengan teman – teman yang lain kami pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami dan kembali ke Jogja.


TAMAT        

  Kita berdua   Ketika kita tak tahu lagi harus melangkah kemana Ketika nahkoda tak lagi dapat menentukan arah kapalnya Ketika kusir...