Jumat, 11 Agustus 2017

Menuju Puncak Suroloyo


Tanggal 14 Januari 2014 kami para anggota inti the baj & the keple kompeni pergi untuk survei tempat perkemahan di bukit suroloyo kabupaten Kulon Progo. Kami janjian berangkat pukul 9 pagi,ya tapi dikarenakan kami ini orang – orang selow jadi molor deh berangkatnya jadi jam 10 pagi. Yang semula akan berangkat dari rumah ane jadi dipindah karena si edo bado minta di jemput,alhasil kita semua menuju rumah edo bado,dan ane pun berangkat dan ternyata di rumah edo bado sudah ada mba peppy dan satria yang sudah sampe duluan di sana.
Kita tak berlama – lama di rumah edo setelah menyantap beberapa buah rambutan yang ada di meja kita pun langsung berangkat menuju puncak suroloyo. Tapi di karenakan mba pep dan satria belum sarapan kita singgah dulu di warung lotek mbah – mbah di tukangan dekat rumah edo. Langsung saja mba pep dan satria memesan nasi pecel dan lotek,dan saya edo memesan teh anget manis mereka berdua memesan es teh. Ya kira – kira satu jamman lah kita di warung lotek itu.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 pagi kami langsung menuju ke puncak suroloyo, dan rute yang kami lalui yaitu tukangan,lalu belok kiri melewati raminten,dan lurus menuju godean lalu melewati kalibawang, dan menyusuri jalan arah sendang sono. Memasuki wilayah godean mata kami di manjakan oleh pemandangan yang indah kiri kanan terhampar persawahan yang hijau dan di tambah jalanan yang sepi semakin membuat perjalanan semakin asik. Sekitar satu jam perjalanan di wilayah godean ane dan edo melihat plang bertuliskan makam keluarga besar Universitas Atma Jaya dan kami pun terkejut, ternyata ada ya makam keluarga besar kampus kami.
Selain melihat sawah kami pun melewati kali progo yang pemandangannya tak kala bagus dengan deretan persawahan tadi. Memasuki kalibawang motor ane si puspa motor kece ane mengalami kendala dan ternyata setelah di cek puspa mengalami ketuban bocor ( ga lah maksudnya ban kempes ) langsung saja ane dan edo mencari tempat pemompaan ban ya sekitar berjalan beberapa meter kita menemukan si abang – abang pompanya. Langsung saja si puspa di beri suntikan angin untuk menambah gairah hidup. Perjalanan pun di lanjutkan kembali, tapi sekitar beberapa kilometer ane merasa janggal dengan si puspa kenapa ban belakangnya jadi semakin goyang,dan ternyata si satria gayo memberitahu bahwa ban si puspa kempes lagi. Ah ternyata si puspa tidak mengalami ketuban bocor tapi ketubannya sudah pecah ( bocor alus ). Untuk mengurangi resiko dan biar si puspa tidak ngambek ane jalan pelan – pelan sambil mencari bengkel yang buka. Melewati belokan sendang sono di kanan jalan ada bengkel yang buka langsung saja ane berhenti dan menyakan keluhan ke abang – abang bengkelnya.
Ya sebenarnya kondisi pecahnya ketuban puspa udah sering ane alamin,entah ini kejadian yang keberapa kalinya. Langsung aja ane berpikir dari pada di tambal – tambal lagi ntar bocor lagi mending aja sekalian ganti ban dalamnya. Setelah menanyakan harga ban ke abang -  abangnya langsung si puspa mulai di telanjangi ( maksudnya ban belakangnya mulai di bongkar ). Ya perlu menunggu beberapa menit lah sampai kelar pemasangan bannya. Dan ternyata didepan bengkel itu ada pondok durian,hemmmm pantes aja dari tadi ni idung nyium aroma duren,ah tapi sayang duriannya masih banyak yang belum masak dan masih setia mereka nangkring di pohon. Ya ga bisadeh ngicip – ngicip durian pas lagi nunggu si puspa ganti ban. Tak berapa lama motor ane selesai di perbaiki,lalu kami pun melanjutkan perjalanan, selang 1km an mba pep dan satria berhenti di warung bensin eceran untuk ngasih si parjo minum,ya mungkin si parjo haus o iya parjo tuh nama motor nya mba pep ( alay ya kita pake ngasih – ngasih nama motor segala....hahahaha ).
Dan ane pun juga ikutan memberikan puspa minum, sambil berbincang – bincang dengan ibu – ibu yang punya warung, kita berbincang menanyakan kapan musim durian di sini dan kalo kata ibunya sih baru bulan depan soalnya minggu – minggu ini hujan terus jadi duriannya males mau jatuh dari pohon takut dingin. Setelah membayar bensin lalu perjalanan kami lanjutkan kembali, kali ini medan yang dilalui untuk sampai ke puncak suroloyo cukup menantang dengan tanjakan tajam dan belokan – belokan curam.
Parjo dan puspa pun harus berjibaku melewati tantangan ini, ya sekitar 45 menit an dari tempat isi bensin tadi kita akhirnya tiba di puncak suroloyo. Langsung saja kita menuju parkiran motor untuk memakir motor tentunya. Kami parkir tak jauh dari tangga menuju puncak suroloyo, setelah memarkir motor perjalanan kami lanjutkan menuju puncak suroloyo dengan berjalan kaki, dan ternyata di depan kami sudah menanti ratusan anak tangga dengan tinggi dan sudut yang ekstrim untuk kami taklukan. Sebelum menaiki anak tangga satria bilang ayo kita itung jumlah anak tangganya ada berapa,kalau menurut yang dia baca itu ada sekitar, aduh berapa ya ane juga lupa ma yang di bilang satria....hehehehe. Dan kami masing – masing pun menghitung anak tangga dari bawah sampai ke puncak. Kalau hasil itungan ane sih 245 anak tangga,tapi satria ngitung hasilnya beda ma ane ya udahlah ya ga penting juga.
Sampai di puncak ternyata di sana ada kayak semacam pendopo gitu untuk melihat pemandangan dari atas puncak. Ya pemandangan yang oke banget dari atas puncak kita bisa melihat gunung merapi, merbabu, sumbing dan sindoro menjulang gagah. Dan candi borobudur pun bisa terlihat dari atas puncak suroloyo.  Setelah puas menikmati keindahan puncak suroloyo dan memandangi kota Magelang kami pun beranjak pulang,kembali kami menuruni anak tangga.
Tapi ternyata cuaca sedikit mendung lalu kami memutuskan untuk singgah sebentar di warung yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Lalu kami memesan makanan dan minuman masing – masing saya memesan indomie rebus telur dan es teh, lalu edo memesan es teh dan kacang atom, mba pep mesan es teh dan makanan apa saya lupa, satria juga mesan es teh dan snack – snack gitulah. Kami semua menikmati pesanan kami sambil mengobrol – ngorol santai, ya mulai dari bergosip, membahas hal yang sedang trend sampai ke urusan percintaan hahahaha.
Ya kira – kira kami menghabiskan waktu sekitar 1,5jam di warung tersebut, dan ternyata cuaca kembali cerah dan langsung saja kami semua bergegas ke parkiran motor untuk menuju tujuan selanjutnya yaitu curug sidoharjo. Di parkiran kami bertanya kepada pemuda setempat dimana lokasi curug itu berada, lalu kami di kasih tau sama masnya katanya ikuti aja jalan pulang nanti ketemu pertigaan yang ke tiga langsung belok kanan. Oke kami pun langsung berlalu dan tak lupa bayar parkir dulu. Di perjalanan ane dan edo mengobrol tentang indahnya pemandangan yang ada di sekitar sini,dan sesekali di selingi tentang obrolan lain. Menit pun berlalu kami semua masih berjalan menuruni jalanan yang berkelok ini dan setelah melewati beberapa pertigaan sampailah kami di pertigaan yang ke tiga yang di maksud pemuda setempat tersebut. Setelah lama menyusuri jalan lalu kami memutuskan untuk kembali bertanya kepada penduduk setempat, ya karena kami ragu – ragu kok dari tadi ga nyampe – nyampe lalu bertanya kepada seorang bocah. Dan tersebut pun memberitahu “ o dari sini lurus aja mas,nah nanti ada masjid belok kanan ikuti aja jalan setapak yang ada di sebelah masjid nah air terjunnya di situ” oke kami pun langsung bergegas berjalan menyusuri jalan,dan tak lama berselang kami menemui masjid dan ternyata ada plang penunjuk ke arah curug.
Langsung saja kami belok kanan ke arah masjid,dan di situ kami sempat kebingungan karena ga ada jalannya dan kami pun metuskan untuk bertanya pada seorang bapak tua yang kebetulan berada di masjid itu. Lalu kata si bapak tua itu,” o masnya ngikuti jalan ini aja nanti ada parkiran parkir di situ saja” oke pak imbuh kami. Dan kami pun berjalan menyusuri jalanan setapak,kami seperti memasuki wilayah hutan karena kanan kiri kami banyak pohon – pohon berasa kayak lagi bertualang di dalam hutan gitu, Cuma kurang motor trail nya aja.
Dan tak lama berselang kami pun sampai disebuah rumah yang juga di jadikan sebagai tempat parkir,lalu kami pun di sambut oleh bapak tua sang pemilik rumah dan parkiran tersebut. Langsung saja kami menaruh motor kami untuk di parkir di situ,dan tidak lupa menanyakan jalan ke curug ke bapak tadi,kata si bapak “ ini ke arah timur nanti ada jalan turun ke bawah nah ikuti jalan itu aja nanati sampai ke curug deh” kata si bapak itu.
Oke tanpa berpikir panjang kami langsung mengikuti kata – kata si bapak tadi,kami menuju ke barat dan menuruni jalan yang ada di bawah. Waow perjalanan yang sangat menakjubkan kami seperti sedang menjelajah hutan, ini kayak di film – film gitu, setelah sekian lama berjalan tampak dari kejauhan sosok curug yang kami cari terlihat dan di sertai suara air yang mengalir cukup deras. Dan ternyata kami sudah dekat dengan curug sidoharjo setelah melewati jembatan kayu kami pun sampai. Mata kami takjub dengan keindahan curug sidoharjo waow curug nya tinggi mungkin tingginya kira – kira 30 meteran.
Kami pun seperti terbius dengan panorama curug sidoharjo ini,kayak di hidden paradise gitu sayangnya kami belum punya bendera jadi ga bisa deh ngikutin hidden paradise. Langsung saja kami menuju lebih dekat ke arah curug, yang pada hari itu berwarna coklat karena memang baru saja di guyur hujan. Air yang menyentuh tubuh ini seakan membuat segar,lalu ane, edo, satria, berpikir sayang nih udah sampai sini kalau ga nyemplung berasa kaga afdol. Langsung saja edo bilang udah sikat aja kita cawetan aja gapapa gada yang lihat ini.
Langsung saja kami bertiga dengan spontan membuka baju dan celana kami,dan hanya tinggal cawet yang membungkus diri ini ( hahahaha,lebai yak omongannya ). Dan kami bertiga pun langsung nyebur ke curug untuk menikmati segar dan dinginnya air curug sidoharjo. Waow dan ternyata benar men dingin banget airnya tapi segar, dan melihat kami terlihat senang bermain di curug, mba pep pun memtuskan untuk nyemplung juga ( byurrrr). Kami pun menghabiskan beberapa jam untuk bermain dan berenang di curug. Dan waktu pun menunjukkan pukul 3 lewat karena kami nanti malam ada pertemuan dengan teman – teman yang lain kami pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami dan kembali ke Jogja.


TAMAT        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Kita berdua   Ketika kita tak tahu lagi harus melangkah kemana Ketika nahkoda tak lagi dapat menentukan arah kapalnya Ketika kusir...