Tanggal
14 Januari 2014 kami para anggota inti the baj & the keple kompeni pergi
untuk survei tempat perkemahan di bukit suroloyo kabupaten Kulon Progo. Kami
janjian berangkat pukul 9 pagi,ya tapi dikarenakan kami ini orang – orang selow
jadi molor deh berangkatnya jadi jam 10 pagi. Yang semula akan berangkat dari
rumah ane jadi dipindah karena si edo bado minta di jemput,alhasil kita semua
menuju rumah edo bado,dan ane pun berangkat dan ternyata di rumah edo bado
sudah ada mba peppy dan satria yang sudah sampe duluan di sana.
Kita
tak berlama – lama di rumah edo setelah menyantap beberapa buah rambutan yang
ada di meja kita pun langsung berangkat menuju puncak suroloyo. Tapi di
karenakan mba pep dan satria belum sarapan kita singgah dulu di warung lotek
mbah – mbah di tukangan dekat rumah edo. Langsung saja mba pep dan satria
memesan nasi pecel dan lotek,dan saya edo memesan teh anget manis mereka berdua
memesan es teh. Ya kira – kira satu jamman lah kita di warung lotek itu.
Waktu
menunjukkan pukul 11.00 pagi kami langsung menuju ke puncak suroloyo, dan rute
yang kami lalui yaitu tukangan,lalu belok kiri melewati raminten,dan lurus
menuju godean lalu melewati kalibawang, dan menyusuri jalan arah sendang sono.
Memasuki wilayah godean mata kami di manjakan oleh pemandangan yang indah kiri
kanan terhampar persawahan yang hijau dan di tambah jalanan yang sepi semakin
membuat perjalanan semakin asik. Sekitar satu jam perjalanan di wilayah godean
ane dan edo melihat plang bertuliskan makam keluarga besar Universitas Atma
Jaya dan kami pun terkejut, ternyata ada ya makam keluarga besar kampus kami.
Selain
melihat sawah kami pun melewati kali progo yang pemandangannya tak kala bagus
dengan deretan persawahan tadi. Memasuki kalibawang motor ane si puspa motor
kece ane mengalami kendala dan ternyata setelah di cek puspa mengalami ketuban
bocor ( ga lah maksudnya ban kempes ) langsung saja ane dan edo mencari tempat
pemompaan ban ya sekitar berjalan beberapa meter kita menemukan si abang –
abang pompanya. Langsung saja si puspa di beri suntikan angin untuk menambah
gairah hidup. Perjalanan pun di lanjutkan kembali, tapi sekitar beberapa
kilometer ane merasa janggal dengan si puspa kenapa ban belakangnya jadi
semakin goyang,dan ternyata si satria gayo memberitahu bahwa ban si puspa
kempes lagi. Ah ternyata si puspa tidak mengalami ketuban bocor tapi ketubannya
sudah pecah ( bocor alus ). Untuk mengurangi resiko dan biar si puspa tidak
ngambek ane jalan pelan – pelan sambil mencari bengkel yang buka. Melewati
belokan sendang sono di kanan jalan ada bengkel yang buka langsung saja ane
berhenti dan menyakan keluhan ke abang – abang bengkelnya.
Ya
sebenarnya kondisi pecahnya ketuban puspa udah sering ane alamin,entah ini
kejadian yang keberapa kalinya. Langsung aja ane berpikir dari pada di tambal –
tambal lagi ntar bocor lagi mending aja sekalian ganti ban dalamnya. Setelah
menanyakan harga ban ke abang - abangnya
langsung si puspa mulai di telanjangi ( maksudnya ban belakangnya mulai di
bongkar ). Ya perlu menunggu beberapa menit lah sampai kelar pemasangan bannya.
Dan ternyata didepan bengkel itu ada pondok durian,hemmmm pantes aja dari tadi
ni idung nyium aroma duren,ah tapi sayang duriannya masih banyak yang belum
masak dan masih setia mereka nangkring di pohon. Ya ga bisadeh ngicip – ngicip
durian pas lagi nunggu si puspa ganti ban. Tak berapa lama motor ane selesai di
perbaiki,lalu kami pun melanjutkan perjalanan, selang 1km an mba pep dan satria
berhenti di warung bensin eceran untuk ngasih si parjo minum,ya mungkin si
parjo haus o iya parjo tuh nama motor nya mba pep ( alay ya kita pake ngasih –
ngasih nama motor segala....hahahaha ).
Dan
ane pun juga ikutan memberikan puspa minum, sambil berbincang – bincang dengan
ibu – ibu yang punya warung, kita berbincang menanyakan kapan musim durian di
sini dan kalo kata ibunya sih baru bulan depan soalnya minggu – minggu ini
hujan terus jadi duriannya males mau jatuh dari pohon takut dingin. Setelah
membayar bensin lalu perjalanan kami lanjutkan kembali, kali ini medan yang
dilalui untuk sampai ke puncak suroloyo cukup menantang dengan tanjakan tajam
dan belokan – belokan curam.
Parjo
dan puspa pun harus berjibaku melewati tantangan ini, ya sekitar 45 menit an
dari tempat isi bensin tadi kita akhirnya tiba di puncak suroloyo. Langsung
saja kita menuju parkiran motor untuk memakir motor tentunya. Kami parkir tak
jauh dari tangga menuju puncak suroloyo, setelah memarkir motor perjalanan kami
lanjutkan menuju puncak suroloyo dengan berjalan kaki, dan ternyata di depan
kami sudah menanti ratusan anak tangga dengan tinggi dan sudut yang ekstrim
untuk kami taklukan. Sebelum menaiki anak tangga satria bilang ayo kita itung
jumlah anak tangganya ada berapa,kalau menurut yang dia baca itu ada sekitar,
aduh berapa ya ane juga lupa ma yang di bilang satria....hehehehe. Dan kami
masing – masing pun menghitung anak tangga dari bawah sampai ke puncak. Kalau
hasil itungan ane sih 245 anak tangga,tapi satria ngitung hasilnya beda ma ane
ya udahlah ya ga penting juga.
Sampai
di puncak ternyata di sana ada kayak semacam pendopo gitu untuk melihat
pemandangan dari atas puncak. Ya pemandangan yang oke banget dari atas puncak
kita bisa melihat gunung merapi, merbabu, sumbing dan sindoro menjulang gagah.
Dan candi borobudur pun bisa terlihat dari atas puncak suroloyo. Setelah puas menikmati keindahan puncak
suroloyo dan memandangi kota Magelang kami pun beranjak pulang,kembali kami
menuruni anak tangga.
Tapi
ternyata cuaca sedikit mendung lalu kami memutuskan untuk singgah sebentar di
warung yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Lalu kami memesan
makanan dan minuman masing – masing saya memesan indomie rebus telur dan es
teh, lalu edo memesan es teh dan kacang atom, mba pep mesan es teh dan makanan
apa saya lupa, satria juga mesan es teh dan snack – snack gitulah. Kami semua
menikmati pesanan kami sambil mengobrol – ngorol santai, ya mulai dari
bergosip, membahas hal yang sedang trend sampai ke urusan percintaan hahahaha.
Ya
kira – kira kami menghabiskan waktu sekitar 1,5jam di warung tersebut, dan
ternyata cuaca kembali cerah dan langsung saja kami semua bergegas ke parkiran
motor untuk menuju tujuan selanjutnya yaitu curug sidoharjo. Di parkiran kami
bertanya kepada pemuda setempat dimana lokasi curug itu berada, lalu kami di
kasih tau sama masnya katanya ikuti aja jalan pulang nanti ketemu pertigaan
yang ke tiga langsung belok kanan. Oke kami pun langsung berlalu dan tak lupa
bayar parkir dulu. Di perjalanan ane dan edo mengobrol tentang indahnya
pemandangan yang ada di sekitar sini,dan sesekali di selingi tentang obrolan
lain. Menit pun berlalu kami semua masih berjalan menuruni jalanan yang
berkelok ini dan setelah melewati beberapa pertigaan sampailah kami di
pertigaan yang ke tiga yang di maksud pemuda setempat tersebut. Setelah lama
menyusuri jalan lalu kami memutuskan untuk kembali bertanya kepada penduduk
setempat, ya karena kami ragu – ragu kok dari tadi ga nyampe – nyampe lalu
bertanya kepada seorang
bocah. Dan tersebut pun memberitahu “ o dari sini lurus aja mas,nah nanti ada
masjid belok kanan ikuti aja jalan setapak yang ada di sebelah masjid nah air
terjunnya di situ” oke kami pun langsung bergegas berjalan menyusuri jalan,dan
tak lama berselang kami menemui masjid dan ternyata ada plang penunjuk ke arah
curug.
Langsung
saja kami belok kanan ke arah masjid,dan di situ kami sempat kebingungan karena
ga ada jalannya dan kami pun metuskan untuk bertanya pada seorang bapak tua
yang kebetulan berada di masjid itu. Lalu kata si bapak tua itu,” o masnya
ngikuti jalan ini aja nanti ada parkiran parkir di situ saja” oke pak imbuh
kami. Dan kami pun berjalan menyusuri jalanan setapak,kami seperti memasuki
wilayah hutan karena kanan kiri kami banyak pohon – pohon berasa kayak lagi
bertualang di dalam hutan gitu, Cuma kurang motor trail nya aja.
Dan
tak lama berselang kami pun sampai disebuah rumah yang juga di jadikan sebagai
tempat parkir,lalu kami pun di sambut oleh bapak tua sang pemilik rumah dan
parkiran tersebut. Langsung saja kami menaruh motor kami untuk di parkir di
situ,dan tidak lupa menanyakan jalan ke curug ke bapak tadi,kata si bapak “ ini
ke arah timur nanti ada jalan turun ke bawah nah ikuti jalan itu aja nanati
sampai ke curug deh” kata si bapak itu.
Oke
tanpa berpikir panjang kami langsung mengikuti kata – kata si bapak tadi,kami
menuju ke barat dan menuruni jalan yang ada di bawah. Waow perjalanan yang
sangat menakjubkan kami seperti sedang menjelajah hutan, ini kayak di film –
film gitu, setelah sekian lama berjalan tampak dari kejauhan sosok curug yang kami
cari terlihat dan di sertai suara air yang mengalir cukup deras. Dan ternyata
kami sudah dekat dengan curug sidoharjo setelah melewati jembatan kayu kami pun
sampai. Mata kami takjub dengan keindahan curug sidoharjo waow curug nya tinggi
mungkin tingginya kira – kira 30 meteran.
Kami
pun seperti terbius dengan panorama curug sidoharjo ini,kayak di hidden paradise gitu
sayangnya kami belum punya bendera jadi ga bisa deh ngikutin hidden paradise.
Langsung saja kami menuju lebih dekat ke arah curug, yang pada hari itu
berwarna coklat karena memang baru saja di guyur hujan. Air yang menyentuh
tubuh ini seakan membuat segar,lalu ane, edo, satria, berpikir sayang nih udah
sampai sini kalau ga nyemplung berasa kaga afdol. Langsung saja edo bilang udah
sikat aja kita cawetan aja gapapa gada yang
lihat ini.
Langsung
saja kami bertiga dengan spontan membuka baju dan celana kami,dan hanya tinggal
cawet yang membungkus diri ini ( hahahaha,lebai yak omongannya ). Dan kami
bertiga pun langsung nyebur ke curug untuk menikmati segar dan dinginnya air
curug sidoharjo. Waow dan ternyata
benar men dingin banget airnya tapi segar, dan melihat kami terlihat senang
bermain di curug, mba pep pun memtuskan untuk nyemplung juga ( byurrrr). Kami
pun menghabiskan beberapa jam untuk bermain dan berenang di curug. Dan waktu
pun menunjukkan pukul 3 lewat karena kami nanti malam ada pertemuan dengan
teman – teman yang lain kami pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami
dan kembali ke Jogja.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar